Senin, 24 Agustus 2009

Pembelajaran Sejarah Kontroversial di Sekolah Menengah Atas (Studi Kasus di SMA N1 Banjarnegara)

Sari Skripsi pada Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang 2008
Tsabit Azinar Ahmad
Mahasiswa Pendidikan Sejarah
Program Pascasarjana UNS
Pembelajaran sejarah kontroversial senantiasa ada dalam pelajaran sejarah, tetapi dalam pelaksanaannya masih belum optimal. Hal ini memunculkan berbagai permasalahan dalam praksis pembelajaran sejarah di sekolah. Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah (1) mengapa SMA N 1 Banjarnegara melaksankan pembelajaran sejarah kontroversial, (2) apa kendala-kendala yang ditemui oleh guru sejarah dalam mengajarkan sejarah yang bersifat kontroversial di SMA N 1 Banjarnegara, (3) bagaimana upaya yang dilakukan guru sejarah untuk mengatasi kendala-kendala dalam pengajaran sejarah yang bersifat kontroversial, serta (4) bagaimana alternatif pembelajaran yang dilaksanakan untuk mengajarkan materi sejarah yang bersifat kontroversial. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) menjelaskan pelaksanaan pembelajaran sejarah kontroversial di SMA N 1 Banjarnegara, (2) mengidentifikasi kendala-kendala yang ditemui oleh guru sejarah dalam mengajarkan sejarah yang bersifat kontroversial di SMA N 1 Banjarnegara, (3) menganalisis upaya yang dilakukan guru sejarah untuk mengatasi kendala-kendala dalam pengajaran sejarah yang bersifat kontroversial, serta (4) merumuskan alternatif pembelajaran yang dilaksanakan untuk mengajarkan materi sejarah yang bersifat kontroversial. Dengan demikian, secara teoretis tulisan ini diharapkan menjadi satu kajian ilmiah tentang pembelajaran sejarah kontroversial di sekolah dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas tentang adanya perubahan dalam sistem pendidikan sejarah.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengambil penelitian di SMA Negeri 1 Banjarnegara. Informan dalam penelitian ini adalah guru sejarah di SMA Negeri 1 Banjarnegara dan beberapa siswa SMA Negeri 1 Banjarnegara yang mendapatkan materi sejarah kontroversial (kelas XI IPA dan XII IPS). Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan beberapa metode yaitu (1) wawancara, (2) pengamatan/observasi, dan (3) dokumentasi. Analisis yang dilakukan menggunakan model analisis model interaktif. Analisis data kualitatif terdiri atas alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) penarikan simpulan.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pembelajaran untuk peristiwa sejarah yang bersifat kontroversial telah diterapkan di Sekolah Menengah Atas. Ada tiga hal yang mendorong pelaksanaan pembelajaran sejarah kontroversial, yakni dari aspek sekolah, kemandirian guru dan kemampuan peserta didik yang baik. Ada dua jenis sejarah kontroversial yang diajarkan di SMA, yakni sejarah kontroversial nonkontemprer dan sejarah kontroversial kontemporer. Salah satu materi yang kontroversial yang telah diajarkan adalah materi yang membahas peristiwa Gerakan 30 September dan Supersemar. Materi tersebut diajarkan pada program IPS di kelas XII semester I dan di program IPA di kelas XI semester II.

Ada beberapa kendala yang ditemui guru sejarah dalam pembelajaran sejarah kontroversial. Kendala-kendala tersebut dapat dipilah menjadi tiga, yakni kendala dalam aspek perencanaan pembelajaran, kendala dalam pelaksanaan pembelajaran, dan kendala dalam aspek atau komponen pendukung lainya. Kendala-kendala yang ditemui dalam kelas sejarah secara umum dapat disebabkan oleh dua faktor, yakni (1) faktor intern dan (2) faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam ilmu sejarah, yakni adanya perubahan dalam corak historiografi Indonesia posreformasi. Faktor kedua adalah faktor ekstern yakni faktor-faktor luar yang berasal dari luar sejarah yang memengaruhi sejarah dan pendidikan sejarah.

Upaya untuk mengatasi kendala-kendala dalam aspek perencanaan adalah guru mencoba untuk mengembangkan silabus yang telah disusun oleh pusat kurikulum dalam perencanaan, upaya pencarian sumber-sumber baru, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, mencoba untuk tidak terpengaruh terhadap kebijakan pemerintah yang menimbulkan banyak kebingungan, selain itu guru juga mengembangkan pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan sekitar dengan memaksimalkan potensi yang telah dimiliki dan pembelajaran berbasis ICT untuk memudahkan pencarian sumber dan peningkatan motivasi.

Salah satu alternatif yang dilakukan guru untuk mewujudkan kesadaran kritis peserta didik tentang suatu peristiwa sejarah adalah dengan melakukan perubahan dalam pendekatan dari pendekatan konvensional menjadi pendekatan kritis. Pendekatan kritis dalam pembelajaran sejarah adalah suatu pendekatan yang bersifat menyeluruh dalam mengulas suatu peristiwa sejarah. Pendekatan ini menekankan pada empat aspek, yakni kausalitas, kronologis, komprehensivitas, dan kontinuitas. Pembelajaran sejarah yang bersifat kontroversial harus dilakukan dengan menggunakan prinsip keseimbangan, di mana versi-versi yang muncul harus ditampilkan beserta argumentasinya, tanpa ada pretensi dan subjektivitas. Melalui pendekatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kritis peserta didik.

Kemudian untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan adanya upaya dari semua komponen penopang pendidikan sejarah, yakni pemerintah, LPTK/perguruan tinggi, organisasi profesi/keilmuan, praktisi pendidikan,media massa, dan masyarakat melalui strategi top down dan bottom up. Oleh karena itu, perlu adanya upaya yang dilakukan oleh semua pihak secara serempak menuju transformasi pendidikan sejarah menuju pendidikan sejarah yang memberikan satu pendewasaan masyarakat yang dilandasi kejujuran, bebas dari kepentingan pribadi, dan semangat membangun kesadaran kritis masyarakat, tentang informasi kesejarahan terbaru kepada masyarakat dan praktisi pendidikan.

Tujuan Pembelajaran Sejarah Kontroversial

Tsabit Azinar Ahmad
Mahasiswa Pendidikan Sejarah
Program Pascasarjana UNS
Pembelajaran sejarah yang tertuang dalam mata pelajaran sejarah memiliki arti strategis dalam pembentukan watak dan peradaban bangsa yang bermartabat serta dalam pembentukan manusia Indonesia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Hal ini karena pengetahuan masa lampau tersebut mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan untuk melatih kecerdasan, membentuk sikap, watak dan kepribadian peserta didik (Lampiran Permendiknas No. 23 tahun 2006)
Tujuan dari pelaksanaan pendidikan sejarah dalam kurikulum 2006 seperti tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 22 Tahun 2006 adalah agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut

(1) membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini, dan masa depan, (2) melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah dan metodologi keilmuan, (3) menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di masa lampau, (4) menumbuhkan pemahaman peserta didik terhadap proses terbentuknya bangsa Indonesia melalui sejarah yang panjang dan masih berproses hingga masa kini dan masa yang akan datang, (5) menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air yang dapat diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan baik nasional maupun internasional.

Secara lebih spesifik, pelaksanaan pembelajaran sejarah kontroversial dengan memberikan argumentasi yang kuat dan logis tentang pendapat-pendapat yang berbeda itu memiliki beberapa tujuan. Abu Su’ud (1993:20-21) menyatakan bahwa pengembangan pola isu kontroversial dalam kelas sejarah bertujuan untuk mencapai (1) peningkatan daya penalaran, (2) peningkatan daya kritik sosial, (3) peningkatan kepekaan sosial, (4) peningkatan toleransi dalam perbedaan pendapat, (5) peningkatan keberanian pengungkapan pendapat secara demokratis, serta (6) peningkatan kemampuan menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan seperti tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, mata pelajaran Sejarah untuk Sekolah Menengah Atas meliputi aspek-aspek sebagai berikut (1) prinsip dasar ilmu sejarah, (2) peradaban awal masyarakat dunia dan Indonesia, (3) perkembangan negara-negara tradisional di Indonesia, (4) Indonesia pada masa penjajahan, (5) pergerakan kebangsaan, (6) proklamasi dan perkembangan negara kebangsaan Indonesia. Dari berbagai aspek tersebut, terdapat beberapa peristiwa sejarah yang bersifat kontroversial yang dapat diajarkan dalam kelas, sehinga kontroversi melekat dalam pembelajaran sejarah.

Di dalam pelaksanaannya, tidak semua peristiwa sejarah yang bersifat kontroversial dapat disajikan dalam materi ajar untuk pembelajaran sejarah di Sekolah Menengah Atas. Hal ini karena adanya skala prioritas untuk mengajarkan sejarah yang memiliki potensi dalam mengembangkan aspek-aspek yang dimiliki oleh peserta didik, khususnya aspek menyangkut cinta tanah air, nasionalisme, dan sebagainya. Selain itu, peristiwa-peristiwa sejarah yang bersifat kontroversial belum dapat diajarkan secara keseluruhan karena pada jenjang Sekolah Menengah Atas, peserta didik belum dianggap perlu untuk mempelajari secara mendetail tentang berbagai peristiwa sejarah. Hal ini karena materi-materi yang diajarkan di Sekolah Menengah Atas, pada dasarnya sudah disusun garis besar penyampaiannya dalam standar kompetensi dan kompentensi dasar. Peristiwa-peristiwa sejarah yang dijadikan materi ajar dalam pembelajaran sejarah yang bersifat kontroversial hanya peristiwa-peristiwa yang dianggap signifikan dan mendukung dalam proses pemahaman peserta didik terhadap suatu rangkaian peristiwa dan konsep tentang masa lalu.

Berkaitan dengan pemilihan topik S.K. Kochhar (2008:454-455) memberikan beberapa batasan pemilihan, yakni (1) topik yang diangkat berada dalam batas kompetensi kelompok, artinya disesuaikan dengan kemampuan guru dan siswa, (2) topik yang diminati dan penting bagi kelas, (3) isu yang tidak terlalu “panas” pada saat ini, karena ada kekhawatiran munculnya pretensi, dan justifikasi, (4) isu yang pembahasannya tidak memakan banyak waktu, serta (5) isu dengan materi yang memadai.

Peristiwa-peristiwa yang diajarkan yang termasuk dalam sejarah kontroversial antara lain tentang teori-teori masuknya Hindu-Budha dan masuknya Islam, atau peristiwa-peristiwa sejarah kontempoerer yang bersifat kontroversial seperti Serangan Umum 1 maret 1949, peristiwa seputar Gerakan 30 September, Supersemar, serta peristiwa seputar reformasi.

Candi Gedong Songo

Tsabit Azinar Ahmad

Mahasiswa Pendidikan Sejarah
Program Pascasarjana UNS


Gedong Songo adalah kompleks yang terletak di kaki gunung Ungaran, Jawa Tengah. Dinamakan Gedong Songo karena candi (gedong) di tempat itu berjumlah sembilan (songo). Candi gedong songo menempati petak-petak di lereng atas gunung dengan pemandangan yang indah di atas sebuah petak besar Jawa Tengah (Tjahjono [peny] 2002:62). Dari gedong songo, seseorang dapat melihat puncak-puncak gunung perahu.

Selain itu dapat pula dilihat dataran tinggi Dieng di barat, hingga Gunung Lawu di sebelah timur. Pemandangan ini merupakan salah satu unsur utama yang membuat orang Jawa memilih tempat ini untuk wilayah gugus keagamaan.


Secara administratif percandian ini berada di wilayah Dukuh Darum, Desa Candi, kecamatan Ambarawa, kabupaten Semarang. Berada di ketinggian 1200-1300 meter di atas permukaan laut, kompleks candi ini pada awalnya disebut sebagai Gedong Pitoe. Sebabnya, pada waktu ditemukan, percandian ini hanya ada tujuh bangunan candi. Namun selanjutnya ditemukan dua bangunan candi lagi sehingga kemudian dinamai dengan percandian Gedong Songo. Kata Gedong (jawa) berarti bangunan, sedangkan Songo (jawa) berarti sembilan. Dengan demikian arti Gedong Songo adalah, sembilan bangunan candi.


Candi gedong songo didirikan sebelum tahun 770, di mana ciri bangunan keagamaan berbilik pada masa ini adalah berukuran kecil (Supratikno Rahardjo, 2002:243). Percandian Gedong Songo dibangun pada sekitar tahun 750 M, kecuali kelompok satu yang dibangun pada 835 M. Candi ini didirikan pada masa Mataram kuno.


Namun demikian, meskipun bernama Gedong Songo, pada saat ini di kompleks percandian tersebut tidak terdapat sembilan candi secara utuh. Sampai saat ini, candi yang masih utuh hanya berjumlah lima buah, sedangkan yang lain hanya pondasinya saja. Candi ini pertaa dilaporkan pada saat pemerintahan Rafless pada 1740. Kelima candi tersebut telah dipugar oleh Dinas Purbakala. Candi Gedong I dan II dipugar pada tahun 1928 sampai tahun 1929 dan tahun 1930 sampai tahun 1931. Pemugaran candi, terutama candi Gedong III, IV, dan V dan penataan lingkungan secara menyeluruh dilakukan oleh pemerintah Indonesia pada 1972-1982.


Candi-candi di gedong songo mengapit sebuah jurang yang mengalirkan air vulkanis yang panasnya hampir mencapai titik didih. Ciri-ciri alami ini mungkin membentuk faktor lain yang menarik perhatian orang Jawa dahulu, mungkin mereka menghubungkan sumber panas dan ciri lain gunung api dengan kekuatan gaib.


Candi di Gedong Songo ini memiliki denah berbentuk bujur sangkar, di mana pada bagiannya terdapat satu pintu dan relung-relung di ketiga sisinya. Candi Gedong Songo dibedakan satu dari yang lain oleh perbedaan denah bagian dalam. Tiga candi utama dalam kelompok III menghadap barat. Candi tengah dipersembahkan untuk Çiwa , berbentuk persegi, dengan sebuah serambi masuk. Relung-relung disusun menjadi bagian luar tiga dinding lain yang berisi patung Agastya, Ganesha, dan Durga. Ini merupakan penampilan pertama tritunggal ikonografi yang kemudian menjadi kewajiban maya perancang semua candi Çiwa di Jawa selama enam abad mendatang (Tjahjono [peny] 2002:62).


Candi gedong songo pada saat ini yang masih berdiri hanya lima kelompok candi. Kelompok candi pertama adalah bangunan yang terletak di posisi paling rendah. Kelompok candi pertama ini hanya terdiri dari satu bagian. Candi pertama ini menghadap ke arah barat. Relung di tubuh candi berisi arca dan berhias relief jambangan bunga yang merupakan lambang kesuburan. Di bagian dalam candi pertama terdapat lingga dan yoni, selain itu di bagian luar terdapat relung atau Parsvadewata, tetapi dalam keadaan kosong. Pada bagian kaki atau subasement terdapat bentuk halfroyend. Banyak dijumpai pelipit menonjol dengan motif permata yang mengelilingi candi. Pada candi pertama ini terdapat pula antefik-antefik dengan motif permata.


Kelompok percandian kedua terdiri dari tiga bangunan. Pada bangunan yang paling utuh, subasementnya dihiasi dengan relief dan pelipit yang menonjol ke luar. Pada dinding candi luar terdapat relung berbentuk kurung kurawa berhias bunga. Selain itu, di bagian atap pada bingkai mahkota di setiap sisi ditemukan relung-relung kecil pada antefik dengan hiasan sosok wanita yang sedang duduk. Kemudian di atap selanjutnya terdapat relung kecil pada antefik tanpa ornamen. Kelompok percandian pertama dan kedua dipugar pada tahun 1928-1929 dan 1930-1931.


Kelompok percandian tiga terdiri dari empat buah bangunan candi. Pada mulanya kelompok candi tiga terdiri dari 15 candi. Pada kanan dan kiri pintu candi induk dijaga oleh Kadiswara. Candi perwara di sebelah selatan candi induk ini memiliki hiasan khusus, yaitu gajah yang sedang bersimpuh. Candi perwara yang berhadapan dengan candi induk berbentuk mirip dengan candi semar di kompleks percandian dieng. Pada reruntuhan candi, terdapat fragmen-fragmen kendaraan dewa surya dengan ujud kereta yang ditarik empat sampai enam ekor kuda.


Kelompok percandian empat diperkirakan terdiri dari satu candi induk dan delapan candi perwara. Namun, pada saat ini candi perwaranya hanya tediri dari fondasi saja. Di sebelah kanan dan kiri pintu masuk candi terdapat relung yang merupakan tempat Mahakala dan Nandiswara. Relung-relung lain di candi ini sudah kosong. Kelompok percandian lima merupakan kelompok percandian yang terletak di posisi yang tertinggi. Saat ini hanya terdapat satu candi induk, sementara candi lainnya hanya berupa reruntuhan.

Daftar pustaka
Supratikno Rahardjo. 2002. Peradaban Jawa: Dinamika Pranata Politik, Agama, dan Ekonomi Jawa Kuno. Jakarta: Komunitas Bambu.

Tjahjono, Gun. (penyusun). 2002. Indonesian Heritage. Jilid VI (Arsitektur). (Terjemahan). Jakarta: Grolier International

Seninya Ilmiah, Ilmiahnya Seni

Tsabit Azinar Ahmad
Mahasiswa Pendidikan Sejarah
Program Pascasarjana UNS
Kali pertama mengenal Kuntowijoyo adalah ketika penulis masih duduk di SMA lewat tulisan-tulisannya. Beliau dikenal sebagai seorang sasatrawan. Mantera Penjinak Ular, Daun Makrifat Makrifat Daun, Pasar merupakan karya Kuntowijoyo yang terkenal. Terlebih lagi cerpen-cerpennya seperti ‘Pistol Perdamaian’, ‘Anjing Penjaga Kuburan’, ‘Laki-Laki yang Kawin dengan Peri’ yang dimuat di Kompas meraih penghargaan sebagai cerpen terbaik Kompas. Namanya pun sejajar dengan sastrawan kondang seperti A.A. Navis, Muchtar Lubis, Danarto, sampai dengan Seno Gumira Ajidarma.

Namun siapa nyana setelah penulis masuk di perguruan tinggi, ternyata Kuntowijoyo bukan hanya seorang sastrawan, melainkan juga seorang sejarawan besar. Buku-bukunya menjadi buku wajib dan pegangan di berbagai perkuliahan. Pengantar Ilmu Sejarah, Metodologi Sejarah, Radikalisme Petani, Paradigma Islam, Raja Priyayi dan Kawula, menjadi buku yang tidak asing bagi mahasiswa sejarah. Namanya dapat disejajarkan dengan sejarawan besar seperti Sartono Kartodirdjo, Taufik Abdullah, Ong Hok Ham, dan sejarawan besar lainnya. Tak kalah hebatnya, seperti halnya M. Natsir pada masa pergerakan, ia merupakan salah satu penggagas konsep ilmu sosial profetik. Namun sayang buah pikirannya belum sempat dituliskan dalam sebuah buku yang mengulas secara spesifik dan sistematis tentang konsep dan penerapan ilmu sosial profetik itu.

Selain Prof. Dr. Kuntowijoyo, ada banyak ilmuwan dan guru besar yang ternyata berada di dua alam sekaligus, ilmu dan seni. Prof. Dr. Edi Sedyawati, mantan Dirjen Kebudayaan, selain dikenal sebagai pakar arkeologi terkemuka di Indonesia, ia dikenal juga sebagai seorang penari. Ia pulalah yang pertama kali mendirikan jurusan tari pada Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Pada usianya yang tidak muda lagi, ditambah dengan kesibukannya sebagai seorang guru besar, ia masih meluangkan waktu untuk tetap menari.

Umar Kayam, seorang Guru besar Universitas Gadjah Mada, mantan Dirjen RTF bahkan sempat aktif dalam dunia film dan sinetron. Pemberontakan G 30 S PKI merupakan salah satu film yang dibintanginya. Selain itu, ia juga berperan dalam sinerton Canting yang diangkat dari novel karya Arswendo Atmowiloto. Selain itu beberapa novel seperti Para Priyayi yang dilanjutkan dengan Jalan Menikung, ditambah dengan cerpen-cerpen yang termasuk dalam cerpen-cerpen pilihan Kompas seperti ‘Lebaran di Karet’, serta karya legendarisnya ‘Seribu Kunang-Kunang di Manhattan’ lahir dari tangannya.

Koentjaraningrat yang dikenal sebagai bapak Antropologi Indonesia terkenal dengan lukisan-lukisannya yang indah. Ilustrasi sampul salah satu bukunya yang berjudul Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan dan ilustrasi-ilustrasi tokoh pada Pengantar Ilmu Antropologi I dan II adalah hasil karyanya. Mantan Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Ir. Eko Budihardjo, M.Sc, sangat identik dengan pembacaan puisi sebelum ia berpidato. Tak usah jauh-jauh, guru besar penulispun di Unnes, Prof. Dr. Abu Su’ud, mantan ketua Muhammadiyah Jawa Tengah sekaligus Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang tahun 2003-2007 sangat lihai membuat kisah jenaka tapi penuh hikmah dalam Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya serta Gayeng Semarang.

Selain itu ada pula seniman yang berasal dari kalangan akademisi. Sebut saja Wahyu Sardono atau yang lebih dikenal sebagai Dono, personel Warung Kopi (Warkop). Selain seorang seniman, ia adalah dosen sosiologi dari Universitas Indonesia. Tidak seperti tokoh-tokoh di atas, dia lebih untuk memilih terjun secara total dalam dunia seni.

Seninya Ilmiah
Dari berbagai contoh tentang ilmuwan dan guru besar di atas, kiranya dapat ditarik satu benang merah. Selain berkutat dengan keilmuannya, mereka juga memiliki jiwa seni dan rasa estetika yang tinggi. Mengapa ini bisa terjadi? Selain karena bakat seni yang dimilikinya, hal ini dikarenakan dalam bidang keilmuannya terdapat hal-hal yang berbau seni. Atau dalam bahasa penulis disebut “ada unsur seni dari hal yang ilmiah”.
Dalam ilmu-ilmu yang dikelompokkan dalam rumpun ilmu sosial dan rumpun humaniora, unsur-unsur seni memang sangat lekat di dalamnya. Sebagai contoh adalah sejarah. Sejarah pada dasarnya termasuk dalam ilmu humaniora. Paling tidak sejarah itu memiliki empat pengertian, sejarah sebagai peristiwa, sejarah sebagai cerita, sejarah sebagai ilmu, dan sejarah sebagai seni. Apabila ditinjau dari segi pendidikan, sejarah memiliki pengertian pula sebagai sebuah mata pelajaran.

Sejarah dapat dikatakan sebagai seni karena pada salah satu tahap metode sejarah ada yang disebut dengan interpretasi. Interpretasi merupakan upaya untuk mengambil makna dari sebuah fakta yang didapat melalui kritik sumber. Tahap interpretasi secara umum dapat diartikan sebagai proses sejarawan mengimajinasikan masa lalu. Upaya untuk benar-benar memahami masa lalu adalah dengan menghadirkan masa lalu itu sendiri, melalui proses imajinasi sejarawan. Pada tahap ini, sejarawan bekerja layaknya seorang novelis ata sastrawan yang memanfaatkan daya pikir dan daya imajinasinya. Pada tahap terakhir metode sejarah, yaitu historiografi atau penulisan sejarah, unsur seni ada pula di dalamnya. Pada tahap ini, sejarawan dituntut untuk menghadirkan masa lalu itu dalam sebuah tulisan yang menarik. Hal ini bertujuan agar cerita sejarah itu tidak kering dan membosankan. Pemilihan kata, koherensi antarkalimat dan paragraf menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam penulisan sejarah. Lagi-lagi, sejarawan bekerja layaknya seorang novelis atau sastrawan pada tahapan ini. Dari contoh tersebut, kiranya dapat dilihat bagaiman nilai seni dalam sebuah ilmu.

Ilmiahnya Seni
Seni yang secara sederhana dapat diartikan sebagai apresiasi dari keindahan atau bahkan keindahan itu sendiri, ternyata dapat tampil sebagai sebuah hal yang ilmiah. Hal ilmiah artinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, dan diperoleh melalui tahapan yang sistematis. Melalui tahapan metodologis tertentu, suatu karya seni dapat dituangkan menjadi sebuah karya atau kajian ilmiah. Film misalnya, film sebagai sebuah karya seni dapat menjadi sebuah kajian ilmiah, seperti sebuah karya yang menyoroti tentang film Gie sebagai sebuah media komunikasi massa dan peranannya dalam membangun opini dan persepsi mahasiswa. Film dapat ditinjau dari segi maknanya atau pesan yang akan disampaikan. Contoh lain adalah wayang. Wayang sebagai sebuah seni pertunjukan, dapat menjadi sebuah tema dari penelitian, seperti tentang nilai kewirausahaan dalam cerita Dewa Ruci. Musik dapat pula menjadi tema dalam penelitian, seperti halnya kajian tentang eksistensi dan perkembangan musik keroncong. Untuk karya seni grafis seperti halnya kartun, dapat pula menjadi sebuah kajian ilmiah seperti halnya tentang fungsi kartun di surat kabar sebagai media pendidikan politik.

Sebuah karya seni, dapat menjadi tinjauan ilmiah bila seni ditinjau tidak sebagai seni. Yang dapat menjadi kajian ilmiah adalah tentang apa yang ada di balik seni tersebut, atau sisi lain apa yang ada dalam sebuah karya seni. Jadi, ilmu dan seni memang bukan dua hal yang bertentangan.