Senin, 04 Mei 2009

Kehidupan Sosial dan Agama Masyarakat Kampung Muslim Gelgel di Bali

Menjelang pertengahan abad XIX, di Bali terdapat sejumlah kerajaan. Masing-masing kerajaan memiliki raja dan pemerintahan sendiri. Di pantai utara, memanjang dari Tanjung Pasir di sebelah barat sampai ke Tanyar (sebuah kota disebelah timur laut Gunung Batur) terdapat Kerajaan Buleleng. Di ujung timur pulau terdapat Kerajaan Karangasem, dan di pantai tenggara terdapat Kerajaan Klungkung dan Gianyar. Di sebelah selatan terdapat Kerajaan Badung, sedangkan di daerah pantai barat daya terdapat kerajaan Jembarana, Tabanan, dan Mengwi. Satu kerajaan lagi yaitu Bangli, terdapat di tengah pulau ini. dari sekian banyak kerajaan, Kerajaan Klungkung adalah kerajaan yang terbesar (Poesponegoro dan Notosusanto [ed], 1984:26-27).

Akan tetapi, di tengah perkembangan agama Hindu dan tumbuhnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu yang ada di Bali, ada beberapa komunitas yang tidak sama dengan komunitas mayoritas, yakni adanya komunitas masyarakat muslim. Di Bali pada saat itu masuk juga proses Islamisasi. Namun karena kuatnya basis keagamaan rakyat dan kebijakan politik raja, agama Islam hanya berkembang pada satu wilayah yang telah mendapatkan izin dari raja setempat. Salah satu komunitas muslim yang muncul dan kemudian menetap di Bali adalah komunitas muslim yang ada di Gelgel.

Komunitas Muslim di Gelgel merupakan perkampungan muslim yang pertama di Bali. Mereka dapat bertahan dengan ajaran Islam sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan mereka. Hal ini menjadi satu keunikan ketika agama Islam merupakan agama minoritas di Bali yang berkembang di tengah-tengah agama yang paling kuat, agama Hindu. Komunitas muslim Gelgel menetap di Kampung Muslim Gelgel di Kabupaten Klungkung, di sebelah tenggara Pulau Bali. Di sanalah mereka secara turun temurun memegang kepercayaan dan agama Islam, serta melakukan interaksi dan sosialisasi dengan masyarakat Bali secara harmonis.

Berbagai keunikan masyarakat di kampung muslim Gelgel sangat terlihat apabila dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya. Keunikan-keunikan terutama terlihat dari ritual keagamaan yang berbeda dengan lingkungan sekirtarnya, organisasi masyarakat yang berbeda, serta ada beberapa kesenian yang berbeda. Namun demikian hal ini tidak menjadi halangan bagi masyarakat kampung muslim Gelgel untuk membaur dengan masyarakat sekitarnya.

Adanya kemunculan, perkembangan, dan eksistensi komunitas muslim di tengah berkembangnya masyarakat Hindu di Bali menjadi satu kajian yang menarik untuk diulas. Maka dari itu, tulisan ini mencoba mengungkap beberapa sendi kehidupan masyarakat Desa Gelgel, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali dengan ajaran Islam yang menjadi pedoman masyarakatnya dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

Dari pemikiran di atas, muncul beberapa permasalahan, yaitu tentang bagaimana proses Islamisasi yang terjadi di daerah Klungkung dan bagaimana perkembangan kehidupan sosial dan beragama masyarakat kampung muslim Gelgel di Bali pada saat ini. Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan tentang proses Islamisasi yang terjadi di Bali, khususnya di daerah Klungkung dan kehidupan sosial agama masyarakat muslim di kampung muslim Gelgel, Kabupaten Klungkung, Bali. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberikan sebuah kajian tentang proses Islamisasi di Bali dan kehidupan masyarakat msulim di Bali, khususnya di kampung muslim Gelgel.

Sejarah Islamisasi di Gelgel

Islam mulai berkembang di Nusantara sekitar abad X yang ditandai dengan adanya makam-makam muslim yang ada di sejumlah daerah, seperti makam Fatimah binti Maimun (1082 M) di Leran, makam Sultan malik Al Saleh (1297 M) di Samudra, serta makam-makam di daerah Troloyo, Trowulan yang berangka tahun 1376 (Soekmono, 1981; Ricklefs, 2004; Mahasiswa Ilmu Sejarah 2005, 2006). Bahkan jauh sebelum itu menurut berita Arab disebutkan bahwa Islam sudah mulai berhubungan dengan Nusantara pada sekitar abad VII masehi. Hal ini dibuktikan dengan adanya sebutan para pedagang Arab untuk kerajaan Sriwijaya, yaitu Zabaq, Zabay, dan Sribusa. Pada waktu itu, kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya pada sekitar abad VII dan VIII, dan Selat Malaka sudah mulai dilalui oleh pedagang-pedagang muslim (Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto 1993:1). Berita Eropa yang dituturkan oleh Marcopolo juga menjadi penguat tentang proses Islamisasi Nusantara. Marcopolo menjelaskan bahwa dalam perjalanannya dari Cina menuju Venesia, sekitar tahun 1292, ia singgah di Sumatera bagian utara dan menemukan adanya kerajaan bercorak Islam (Soekmono, 1981:42). Berita India menyebutkan bahwa para pedagang India dari Gujarat disamping berdagang, mereka aktif mengajarkan agama dan kebudayaan Islam terutama masyarakat di pesisir pantai. Berita Cina dari juru tulis Laksamana Cheng Ho, Ma Huan, dinyatakan bahwa sejak tahun 1400 telah ada saudagar-saudagar Islam yang bertempat tinggal di pantai utara Pulau Jawa.

Perkembangn Islam yang pesat di Nusantara telah memunculkan beberapa kerajaan besar yang pada perkembangannya, kerajaan-kerajaan ini memiliki peran dalam mengembangkan Islam sebagai sebuah agama yang mendominasi hampir seluruh Nusantara. Dimulai dengan adanya kerajaan Samudra yang ada di ujung utara Sumatera, Islam berkembang sampai di Pulau Jawa yang pada saat itu dikuasai oleh Majapahit. Akan tetapi dalam perkembangannya, Islam kemudian diterima sebagai sebuah agama yang diakui oleh pemerintah kerajaan Majapahit. Bahkan raja Majapahit terakhir menikah dengan seorang putri Campa dan akhirnya memiliki anak bernama Raden Patah (Jin Bun) yang kelak menjadi penguasa Demak (De Graff dan Pigeaud, 1985; Slametmulyana, 2005). Setelah keruntuhan Majapahit pada tahun 1478 itulah, Islam mulai berkembang secara sangat pesat di Jawa dan pada akhirnya menyebar ke seluruh Nusantara. Akan tetapi dalam perkembangannya, Islamisasi tidak sepenuhnya merata. Hal ini terlihat pada saat yang bersamaan, Hindu juga tengah berkembang di daerah Bali. Hal ini ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu yang menganggap dirinya sebagai penerus dari Kerajaan Majapahit.

Salah satu kerajaan terbesar yang berkembang di Bali adalah kerajaan Klungkung. Kerajaan Klungkung terbagi menjadi tiga periode yang masing-masing periode ditandai dengan adanya pemindahan kekuasaan. Periode tersebut adalah periode Samprangan (1350-1383) yaitu ketika pemerintahan berpusat di Samprangan. Periode kedua adalah periode Gelgel (1383-1704) dengan pusat pemerintahan di Gelgel dan diakhiri dengan tumbangnya patih pemberontak yang memerintah. Periode ketiga adalah periode Klungkung (1704-1908). Kerajaan Klungkung secara resmi berdiri pada 1704, tetapi sebelumnya telah didirikan kraton sebagai lambang pemerintahan tandingan pada 1686. Dengan demikian, Kerajaan Klungkung dapat dinyatakan berdiri pada 1686 tetapi baru menggantikan periode Gelgel yang diperintah Krayan Agung Maruti pada 1704 (Sidemen dkk., 2001). Pada masa Kerajaan Klungkung inilah terjadi satu proses Islamisasi yang ada di Bali yang pada saat ini ditandai dengan adanya kampung muslim di Gelgel.

Masuknya agama Islam ke Bali dimulai pada saat berkuasanya Raja Gelgel I, Ketut Ngulesir (1380-1460). Pada masa pemerintahannya, raja Gelgel pernah mengadakan kunjungan ke Majapahit. Wirawan seperti dikutip oleh Mahasiswa Ilmu Sejarah 2004 (2006) menyatakan bahwa kunjungan tersebut dimaksudkan untuk mengahadiri jamuan yang dilakukan oleh raja Hayam Wuruk. Jamuan tersebut dihadiri oleh seluruh kerajaan vasal di seluruh Nusantara. Setelah selesai menghadiri pertemuan tersebut, perjalanan pulang raja Gelgel I ini, diantar oleh 40 prajurit Majapahit yang beragama Islam. Kunjungan yang dilakukan oleh Ketut Ngulesir ini merupakan kunjungan yang pertama dan terakhir sebelum kerajaan Majapahit hancur.

Berita masuknya agama Islam ke pulau Bali dapat diketahui dari beberapa sumber, baik sumber lokal maupun sumber asing. Dari cerita-cerita masyarakat Gelgel secara turun temurun seperti dituturkan oleh Bapak Khanani selaku kepala desa muslim Gelgel, didapatkan informasi bahwa orang Islam yang pertama kali datang ke Gelgel (sebagai pusat pemerintahan di Bali sejak abad XIV) adalah merupakan rombongan pengiring raja sejumlah 40 orang, yang berasal dari Kerajaan Majapahit. Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan raja Gelgel I, Ketut Ngulesir. Jika hal tersebut dijadikan patokan, maka rombongan inilah yang menjadi orang Islam yang datang pertama kali di Bali. Kedatangan mereka tersebut tidak ditindaklanjuti untuk mendirikan kerajaan seperti kejadian di pesisir utara pantai Jawa, melainkan mereka menjadi abdi dalem yang memerintah. Dalam sumber lokal (Babad Dalem), pengislaman kerajaan Bali yang dilakukan oleh utusan yang berasal dari “Mekkah” terjadi pada masa pemerintahan raja Waturenggong sekitar abad XV dan ke XVI (Wirawan, tanpa tahun). Pada abad ke XV-XVI, diketahui bahwa ada dua pusat kerajaan Islam di Jawa, yaitu Demak dan Mataram.

Pada masa tersebut, Demak muncul sebagai pusat penyebaran agama Islam, sehingga mendapatkan julukan sebagai kota “Mekkah” di kawasan Nusantara. Berdasarkan hal tersebut, dapat diartikan bahwa utusan yang gagal untuk mengislamkan kerajaan Bali adalah berasal dari Demak yang diutus oleh Raden Patah. Kegagalan misi tersebut, membuat utusan dari Demak malu untuk kembali ke Jawa. Mereka memilih untuk menetap di Bali, yaitu di daerah Satre. Akhirnya Raja Gelgel I memberikan ”daerah lungguh” kepada beberapa orang tersebut yang masih hidup untuk tinggal di desa Gelgel. Oleh masyarakat kampung muslim Gelgel, utusan dari Demak ini dianggap juga sebagai nenek moyang dari warga kampung (wawancara dengan Bapak Khanani).

Daerah Satre tersebut kini sudah menjadi area persawahan dan tidak ada situs yang tertinggal. Desa Gelgel sendiri merupakan “daerah lungguh” yang diberi hak istimewa untuk mengelola daerahnya sendiri. Dari saat itulah ajaran Islam mulai berkembang di Desa Gelgel dan bertahan hingga sekarang.

Kehidupan Sosial dan Agama Masyarakat Kampung Muslim Gelgel

Secara administritif, perkampungan muslim Gelgel mempunyai keistimewaan. Keistimewaan ini terlihat dalam hal pemerintahan, di mana orang muslim di sana bisa menjadi kepala pemerintahan (kepala desa). Hal ini sangat berbeda dengan keadaan orang muslim yang berada di luar perkampungan Gelgel. Penduduk yang menghuni kawasan kampung muslim Gelgel terdiri dari dua jenis, yakni mereka yang sudah turun temurun tinggal di sana dan masyarakat pendatang yang beragama Islam. Dari segi mata pencaharian, masyarakat kampung Gelgel sebagian besar bermata pencaharian sebagai pedagang dengan prosentase sekitar 80% dan selebihnya sebagai petani dan pegawai. Umumya mereka berjualan pakaian-pakaian jadi dan dijual dipasar-pasar, seperti pasar seni Sukawati. Untuk menandakan bahwa penduduk kampung Gelgel adalah muslim, mereka menggunakan nama-nama Islami dalam penamaan di KTP (Kartu Tanda Penduduk). Namun dalam panggilan sehari-hari, mereka menggunakan panggilan nama Bali yang berdasarkan urutan kelahiran, seperti Made, Ketut, Wayan, dan sebagainya.

Keadaan pendidikan di Gelgel dapat dibedakan menjadi pendidikan formal dan pendidikan informal. Pendidikan formal yang diperoleh oleh masyarakat Gelgel, adalah hampir sama seperti yang didapatkan oleh masyarakat secara umum, yaitu pendidikan dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi. Pendidikan informal yang diperoleh oleh masyarakat Gelgel adalah pendidikan yang didapatkan dari pesantren. Pendidikan informal ini didapatkan oleh masyarakat Gelgel hanya sebatas mengerti dan bisa membaca dan menulis Al-Qur’an. Masyarakat disana bisa dibilang bersifat terbuka kepada siapapun yang datang, bahkan dengan orang yang berbeda agama sekalipun pasti disambut dengan baik apabila maksud dan tujuan orang yang berkunjung datang dengan maksud yang baik pula.

Hubungan antar warga muslim di kampung Gelgel terjalin sangat baik. Sifat kerukunan dan kegotong-royongan terlihat jelas dalam kehidupan sehari-harinya. Setidaknya ada tiga faktor yang membuat hubungan itu terjalin dengan baik. Pertama, adanya persamaan agama, yaitu Islam, notabene adalah agama minoritas di Bali. Kedua, ruang lingkup yang sempit dan jumlah penduduk yang kecil. Ketiga, masih adanya hubungan keluarga diantara masyarakat kampung muslim Gelgel (wawancara dengan Bapak Khanani).

Seperti halnya hubungan antar warga muslim, hubungan sosial masyarakat antara warga muslim dengan warga nonmuslim, khususnya warga Hindu juga terjalin dengan baik. Mereka bekerja sama dalam kegiatan desa, seperti gotong-royong bersih desa atau kegiatan desa lainnya. Toleransi antar umat beragama juga berjalan dengan baik, misalnya pada saat umat Hindu merayakan hari raya Nyepi, di kampung muslim ini listrik masih menyala, adzan dengan pengeras suara tapi dengan batasan tertentu agar tidak menggangu umat Hindu yang merayakan hari raya Nyepi. Apabila ada salah satu pihak yang mengadakan acara pernikahan, kelahiran atau perayaan, maka pihak yang mempunyai acara itu akan mengundang pihak lain dan yang diundangpun akan hadir dengan senang hati.

Satu hal yang sangat menarik adalah apabila yang mengundang adalah umat Hindu, maka dengan tidak diminta mereka akan menyediakan hidangan khusus yang dalam Islam halal untuk menjamu para tamu undangan dari pihak muslim, terutama dari kampung Gelgel. Selain itu, tamu dari kampung Gelgel ini juga tidak diperbolehkan duduk dibawah beralaskan tikar atau karpet, tetapi duduk bersama tokoh pemuka agama Hindu. Menurut kepala desa kampung Gelgel, penghormatan yang besar seperti itu didasari oleh pendapat umat Hindu bahwa penduduk kampung Gelgel masih termasuk keturunan raja Kerajaan Klungkung.

Dalam bidang agama, di perkampungan muslim Gelgel hanya mempunyai satu buah masjid. Masjid ini digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Masjid yang berada di perkampungan muslim Gelgel ini adalah merupakan masjid yang tertua. Diperkirakan dibangun setelah peristiwa pengislaman yang terjadi pada masa pemerintahan raja Gelgel, yakni Waturenggong.

Masyarakat di kampung Gelgel ini umumnya adalah penganut muslim yang taat. Hal ini terlihat bahwa masyarakat lebih mementingkan shalat lima waktu dengan tepat waktu sampai mengesampingkan urusan-uruasan yang lain. Selain itu masyarakat juga kebanyakan sudah menggunakan nama-nama muslim yang berbau Arab (wawancara dengan Bapak Khanani). Akan tetapi masyarakat di sana tidak mengesampingkan nama-nama panggilan asli Bali yang telah menjadi budaya disana, seperti Wayan, Made, Ketut dan sebagainya.

Pada dasarnya, ajaran Islam yang ada di kampung muslim Gelgel Bali, hampir sama dengan ajaran Islam yang ada di Jawa, terutama Demak. Hal ini karena Islam yang ada kampung muslim Gelgel dibawa oleh pengawal raja dari Kerajaan demak. Dari segi ajaran, memang hampir sama, tetapi ajaran Islam di kampung muslim Gelgel masih murni, dalam artian ajaran yang ada disana tidak banyak mendapat pengaruh dari berbagai jenis aliran ajaran Islam, seperti yang ada di Jawa. Memang ada sebagian orang yang termasuk dalam organisasi Nahdlatul Ulama ataupun Muhammadiyah. Akan tetapi, mereka tidak mendukungnya dengan sikap yang fanatik ataupun secara berlebihan serta tidak membesar-besarkan perbedaan yang ada.

Menurut Bapak Khanani, ajaran Islam yang ada di kampung muslim Gelgel ini dipengaruhi oleh mazhab Syafi’i. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana para tokoh agama disana yang menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai dasar dari keyakinan mereka. Mereka juga berusaha sekuat tenaga untuk menjaga kemurnian ajaran yang mereka yakini dengan mencoba menghalau beberapa aliran yang mencoba masuk. Upaya yang mereka lakukan selama ini sangat efektif dengan mengambil tindakan prefentif jika ada yang mencoba memasukkan pengaruhnya. Upaya ini berhasil dengan adanya hubungan kekeluargaan diantara masyarakat kampung muslim Gelgel. Ritual keagamaan yang dilakukan oelh masyarakat muslim di Gelgel tidak jauh berbeda dengan ritual keagamaan yang dianut oleh masyarakat Islam dengan mazhab Syafi’i. Mereka setiap bulan melaksanakan pengajian rutin. Dalam masyarakatnya dikenal pula tahlilan, yakni ritual yang identik dengan ibadah kaum Nahdlatul Ulama. Ketika ada yang meninggal mereka juga melakukan ritual tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, dan sebagainya. Mengenai pengaruh nahdlatul ulama di Gelgel, hal ini tidak lepas dari adanya peran pendatang dari luar yang kemudian menetap di sana.

Dalam bidang kesenian, meskipun berada di wilayah komunitas Hindu, namun di kampung muslim Gelgel ini tidak berpengaruh. Kesenian bercirikan Islam jelas terlihat di wilayah itu. Seni bangunan misalnya, disetiap gang dibuat gapura yang berbentuk pintu masjid serta setiap gang dinamai dengan nama-nama Kholafaurrasyidin. Ketika memasuki kampung ini, maka pengunjung seperti memasuki daerah di luar Bali, karena corak khas Bali seakan hilang di daerah itu. Dalam seni musik, di kampung ini dikenal Rudak yang di Jawa disebut Rebana. Biasanya Rudak ini dimainkan pada saat peringatan hari-hari besar Islam, acara pernikahan atau khitanan, dan sebagainya dengan diiringi sholawat-sholawat.

Adanya hal di atas menandakan bahwa dalam perkembangannya, masyarakat muslim di Bali sebagai kaum minoritas menjalani aktivitas kehidupan sosial dan agama secara normal. Proses sosialisasi dan interaksi antara keduanya berjalan secara harmonis. Hal ini dikarenakan telah terjadi satu proses konformitas antara masyarakat muslim di Gelgel dengan masyarakat sekitar yang beragama Hindu. Adanya konformitas antarwarga ini telah mendorong terjadinya satu proses integrasi sosial, yakni adanya satu keseimbangan diantara keanekaragaman yang membentuk suatu harmoni (Abu Su’ud, 2007:4). Adanya satu integrasi sosial tidak lepas dari adanya sikap saling menghormati antarumat beragama, semangat pluralisme, dan semangat persaudaraan antara minoritas muslim dan mayoritas Hindu di Bali


Penutup

Islamisasi yang terjadi di Bali berdasarkan studi di kampung muslim Gelgel dapat dibagi menjadi dua, yakni Islamisasi yang dibawa oleh para prajurit dari Majapahit yang mengawal raja Bali dan kemudian menetap di bali, dan Islamisasi yang dibawa oleh utusan dari Demak. Keturunan dari para pembawa Islam tersebut sampai sekarang masih ada dan menetap di kampung muslim Gelgel. Walaupun menjadi kaum minoritas di Bali, sampai sekarang kehidupan sosial dan agama masyarakt kampung muslim Gelgel berjalan normal. Hal ini dikarenakan adanya sikap saling menghargai dan menghormati, semangat pluralisme, dan semangat persaudaraan.

DAFTAR PUSTAKA


Abu Su’ud. 2007. Revitalisasi Pendidikan IPS (Suplemen Pendidikan Ilmu Sosial). Semarang: Fakultas Ilmu Sosial Universitas negeri Semarang.

De Graff, H.J. dan Th.G.Th. Pigeaud, 1985. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Jakarta: Grafitipers.

Mahasiswa Ilmu Sejarah 2004. 2006. ‘Eksistensi Islam di Bali; Studi terhadap Masyarakat Kampung Muslim Gelgel’. Laporan Kuliah Kerja Lapangan. Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang.

Mahasiswa Ilmu Sejarah 2005. 2007. ‘Menelisik Eksistensi Islam pada Masa Hindu-Budha Melalui Epigrafi Kuno Di Jawa’. Laporan Kuliah Kerja Lapangan. Jurusan Sejarah Universitas Negeri Semarang.

Poesponegoro, Marwati Djoned dan Nugroho Notosusanto (et.al). 1984. Sejarah Nasional Indonesia. Jilid 4. Jakarta: Balai Pustaka.

---------. 1993. Sejarah Nasional Indonesia. Jilid 3. Jakarta: Balai Pustaka.

Ricklefs, M.C. 2004. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: Serambi.

Sidemen, Ida Bagus dkk. 2001. Sejarah Klungkung; Dari Smarapura sampai Puputan. Klungkung: Pemerintah Kabupaten Klungkung.

Slametmulyana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Ygyakarta: LkiS.

Soekmono, R. 1981. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Yogyakarta: Kanisus.

Wirawan, A.A. bagus. Tanpa tahun. ‘Sejarah Perkembangan Islam di Bali Khususnya Kabupaten Klungkung’. Makalah. Disampaikan pada seminar tentang Islamisasi Bali di Universitas Udayana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar