Minggu, 03 Mei 2009

Unsur Legitimasi Kekuasaan dalam Ragam Historiografi Tradisional

Dikenalnya tulisan telah mengubah suatu peradaban manusia. Manusia menjadi tidak hanya mengenal tradisi lisan saja, tetapi juga mengenal adanya tradisi tulis. Dikenalnya tradisi tulis dalam masyarakat telah mempermudah proses komunikasi dari satu orang ke orang lain. Perkembangan tradisi tulis juga memunculkan adanya upaya untuk mendokumentasikan aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat pada kurun waktu tetentu. Tradisi tulis juga berperan sebagai alat komunikasi antargenerasi dan media pelestarian kebudayaan masyarakat sebelumnya melalui penyampaian pesan kepada generasi berikurnya.

Pada masa lampau, upaya untuk menuliskan dan mendokumentasikan aktivitas-aktivitas yang dituangkan dalam sebuah tulisan, baik dalam bentuk kronik, syair dan karangan sejenis lainnya telah memudahkan masyarakat pada masa kini untuk mengetahui aktivitas dan peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Dengan diketahuinya peristiwa dan aktivitas manusia yang dilakukan pada masa lampau tersebut, tradisi tulis ini telah berkembang menjadi salah satu sumber sejarah yang dapat digunakan sebagai sumber untuk penulisan sejarah modern. Perkembangan tradisi tulis pada masyarakat masa lampau di berbagai wilayah Indonesia ini dikategorikan sebagai satu bentuk historiografi (penulisan sejarah) tradisional. Apabila dibandingkan dengan historiografi modern, histroiografi tradisional memiliki karakteristik yang khas. Beberapa bentuk historiografi tradisional yang terkenal antara lain Nagarakretagama, Pararaton, Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon, Hikayat Hasanuddin.

Historiografi Tradisional
Historiografi tradisional yang berkembang di Indonesia merupakan bentuk penulisan sejarah yang bersifat lokal tradisional. Hal ini dikarenakan tulisan tersebut menggambarkan lokalitas tertentu, baik penulisnya, lingkungan sosial yang terbatas pada komunitas etnik tertentu, serta pembahasannya yang hanya terbatas pada situasi di wilayah yang tertentu pula.

Ragam historigrafi tradisional yang berkembang di Indonesia seperti babad, serat, hikayat, dan lain sebagainya merupakan tulisan dalam bentuk karya sastra. Hal inilah yang menjadi salah satu aspek pembeda antara historiografi tradisional dengan historiografi modern. Karena sifatnya sebagai karya sastra ---bahkan terkadang bersifat puja sastra seperti halnya Nagarakretagama--- penggunaannya sebagai sumber sejarah perlu dilakukan upaya kritik yang tajam serta interpretasi atas tanda-tanda (signs) yang terkandung, sehingga dapat ditemukan makna di dalamnya. 
Ditinjau dari segi penulisnya, sebagai sebuah karya sastra, maka penulis dari berbagai ragam historiografi tradisional ini bukan berasal dari masyarakat kebanyakan, melainkan dari lapisan masyarakat yang intelek dan terpelajar. Hal ini bisa dipahami karena pada masa itu akses pendidikan masih sangat terbatas untuk masyarakat luas, dan akses pendidikan itu hanya terbuka bagi kalangan tetentu. Pada masa Hindu Budha, golongan masyarakat yang bisa mengenyam pendidikan dan mengenal karya sastra adalah masyarakat dari lapisan atau kasta Brahmana dan Ksatrya. Dengan demikian, penulis dari ragam historiografi tradisional pada masa Hindu Budha adalah golongan masyarakat yang terdidik, yakni dari golongan Brahmana dan Ksatrya. Setelah masuk zaman Islam, penulis dari historiografi tradisional tidak jauh berbeda dengan penulis pada masa Hindu Budha. Mereka berasal dari lapisan tertentu, yakni mereka yang dianggap sebagai orang terpelajar yang biasanya dari lingkungan penguasa.

Oleh karena penulis dari ragam historiografi tradisoinal ini adalah berasal dari masyarakat pada lapisan tertentu, maka tentu saja mereka berada pada satu komunitas tertentu dalam lingkup spatial tertentu. Ditinjau dari lingkungan penulisnya, ragam historiografi tradisional tersebut pada umumnya ditulis di lingkungan penguasa/kraton. Oleh karena itu, ragam historiografi tradisional ini bersifat istanasentris. Rasionalisasinya adalah bahwa penulisan ragam historiografi tradisonal ini tidak hanya tergantung dari intelektualitas penulisnya saja, tetapi juga perlu adanya dukungan dari penguasa. Bahkan, penulisan dari ragam historiografi tradisional tersebut pada umumnya adalah atas permintaan raja. Nagarakretagama misalnya, ia merupakan satu karya sastra yang mengagungkan raja (puja sastra) dan mengisahkan aktivitas yang dilakukan oleh raja Majapahit. Contoh lainnya adalah Babad Tabah Jawi yang ditulis atas perintah Paku Buwono III.

Penulisan berbagai ragam historiografi tradisional biasanya dilakukan oleh para pujangga. Para pujangga dalam suatu keajaan memiliki posisi yang istimewa. Ia bertindak sebagai penasehat raja, baik dalam bidang sastra itu sendiri, sosial, ekonomi, politik, bahkan sampai pada masalah spiritual.

Ditinjau dari segi isi, ada karakteristik tertentu ynag termuat dalam historiografi tradisional. Menurut C.C. Berg karakteristik yang terkandung dalam historiografi tradisional adalah (1) adanya kepercayaan tentang “sekti” (sakti) yang menjadi pangkal dari berbagai peristiwa alam, temasuk yang menyangkut kehidupan manusia. (2) Dalam menjelaskan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan manusia, penulis karya sastra sejarah itu juga dipengaruhi oleh adanya kepercayaan akan klasifikasi magis yang mempengaruhi segala sesuatu yang ada di alam ini, baik itu makhluk hidup maupun benda-benda mati, baik bagi pengertian-pengertian yang dibentuk dalam akal manusia maupun bagi sifat-sifat yang terdapat dalam materi. Atas dasar klasifikasi semacam ini, maka dengan mudah terjadi penghubungan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain yang secara akal sehat sulit diterima. (3) Dalam ragam historiografi tradisional, ciri khusus yang terkandung di dalamnya adalah kepercayaan tentang perbuatan magis atau sihir yang dilakukan oleh tokoh-tokoh tertentu (Widja, 1989:68-69). Karakteristik lain dari historiografi tradisional adalah bahwa di dalamnya terdapa genealogis seorang penguasa/raja atau suatu komunitas. Di dalamnya terdapat pula adanya proses naiknya raja/penguasa secara legendaris, dan peristiwa-peristiwa besar lainnya yang melegenda.

Berbagai ragam historiografi tradisional yang telah ditulis di seluruh Indonesia memiliki tujuan yang sama yang sengaja ditulis untuk keperluan-keperluan tertentu. Salah satu ragam historiografi tradisional yang banyak dikenal adalah babad. Sebagai satu ragam historiografi tradisional, dalam babad diuraikan tentang peristiwa-peristiwa magis, adanya genealogi raja, serta ditulis dengan tujuan tertentu. Dalam babad dikisahkan berbagai peristiwa, kronik, dan silsilah raja-raja beserta latar belakang sosial masyarakatnya.

Legitimasi Kekuasaan
Dalam rangka mempertahankan kekuasaannya, seorang penguasa atau raja menggunakan berbagai upaya dan cara agar ia dapat terus berkuasa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggunakan komunikasi politik yang ditujukan kepada siapa saja. Kaitannya dengan ragam historiografi tradisional dan upaya mewujudkan dan mempertahakan legitimasi adalah bahwa ragam historioigrafi tradisional berperan sebagai media dalam komunikasi politik raja.
Sebagai media komunikasi politik, dalam babad, hikayat, dan ragam historiografi tradisional lainnya, di dalamnya terkandung pesan-pesan yang hendak disampaikan oleh raja dalam rangka pembentukan image masyarakat luas tentang rajanya yang dituliskan itu. Melalui babad, dan karya sastra sejenisnya, raja mencoba untuk menonjolkan keunggulan-keunngulan dirinya, keluarganya, dan leluhurnya. Raja bahkan mencoba untuk menciptakan keunggulan-keunggulan, baik berasal dari leluhurnya atau kesaktiannya yang dituliskan dalam ragam historiografi tradisional. Hal ini tidak lain sebagai suatu sarana agar raja mendapat pengakuan, dan dengan pengakuan itu, ia bisa terus berkuasa.

Sebagai contoh adanya unsur untuk melegitimasi kekuasaannya adalah dalam Babad Tanah Jawi. Babad Tanah Jawi ditulis oleh Carik Braja atas perintah dari Sunan Paku Buwono III (memerintah tahun 1749-1788). Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan silsilah raja-raja cikal bakal kerajaan Mataram yang secara genelaogis berasal dari Nabi Adam dan nabi-nabi lainnya sebagai nenek moyang dari raja-raja Hindu di tanah Jawa hingga Mataram Islam. Penulisan silsilah raja-raja Jawa Islam sebagai keturunan dari Nabi Adam, nabi-nabi lainnya, dan raja-raja Hindu Budha merupakan suatu perpaduan yang sangat efektif dalam mencari dan mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Di satu sisi, Islam pada masa itu berkembang sebagai agama mayoritas, sehingga untuk menarik dan mendapatkan pengakuan, raja dituliskan sebagai keturunan langsung dari nabi. Di sisi lain, untuk membangkitkan semangat dan memori tentang kejayaan masa lampau, dituliskan bahwa Raja Jawa Islam merupakan keturunan dari raja-raja terdahulu. Adanya hal tersebut menunjukkan bahwa raja adalah orang yang hebat karena ia berasal dari leluhur yang hebat pula.

Contoh lain tentang pembentukan image raja dan upaya mendapatkan dan mempertahankan legitimasi adalah dalam Babad Sultan Agung. Dalam Babad Sultan Agung ini, pada bagian awal dikisahkan tentang kehebatan dalam penaklukan Palembang. Kemudian dikisahkan pula kesaktian-kesaktian dari Sultan Agung, yang salah satunya dalam sekejap bisa pergi ke mana saja. Dalam Babad Sultan Agung ini, dikisahkan pula adanya pertemuan dengan tokoh-tokoh pewayangan seperti Semar dan Arjuna.

Terlepas dari kebenaran atas kisah yang dituliskan, dalam ragam historiografi tradisional ada kecenderungan lain terkait dengan fungsinya sebagai media untuk mendapatkan pengakuan dari raja. Dalam ragam historiografi tradisional terdapat proses mitologisasi (proses pembentukan mitos). Mitos merupakan hal yang tidak ada, tetapi dicoba untuk diadakan, sehingga oleh masyarakat dianggap seolah-olah ada. Dengan inilah, historiografi tradisional berperan sebagai media komunikasi politik yang efektif untuk menumbuhkan dan mempertahankan pengakuan dari masyarakat luas.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar